Homo homini socius dan homo homini lupus

Dalam penulisan kali ini kita akan membahas tentang homo homini socius dan homo homini lupus, sebelumnya marilah kita baca 2 artikel yang masing-masing membahas homo homini socius dan homo homini lupus.

Homo Homini Socius

Homo homini socius (Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini ) (http://id.wikipedia.org/wiki/Nicolaus_Driyarkara), merupakan sebuah istilah yang di utarakan pada awalnya oleh seorang filsuf berlatar belakang ekonomi, Adam Smith. Inti dari pikiran ini adalah bahwa manusia akan butuh orang lain dalam hidupnya untuk berinteraksi. Dalam sebuah teori yang sangat sederhana, teori ini dapat dengan sederhana dibuktikan dengan kebutuhan manusia akan akurasi dan dipandang baik oleh orang lain (aronson, 2004). Dalam konteks ingin dipandang baik oleh orang lain, akan menjadi sorotan dalam homo homini socius dan kemudian, kebutuhan ini akan dijelaskan lebih lanjut dengan konsep self esteem atau yang diterjemahkan menjadi harga diri.
Kebutuhan akan harga diri pertama kali dijelaskan dalam hierarchy of needs, oleh Abraham Maslow (Schultz, D. 1976). Maslow membagi atas 2 bagian untuk kebutuhan akan harga diri ini, yaitu kebutuhan yang tergolong rendah dan tergolong tinggi. Yang tergolong rendah mencakup kebutuhan dihormati oleh orang lain, kebutuhan akan status, popularitas, kemenangan, dikenal, diperhatikan, reputasi, apresiasi, martabat, dan bahkan dominansi. sementara yang tergolong tinggi mencakup kebutuhan akan penghormatan terhadap diri sendiri oleh diri sendiri (self respect) seperti perasaan yakin, kepemilikan akan kompetensi, perolehan hasil, penguasaan akan suatu hal, kemandirian, dan kebebasan. Bentuk-bentuk ke dua disebut sebagai kebutuhan yang dikategorikan tinggi oleh Maslow karena ketika sudah memiliki self respect tersebut, maka seorang individu akan sulit terlepaskan itu semua.
Semua penjelasan-penjelasan tersebutlah, yang kemudian akan membuat seseorang membutuhkan orang lain, sebab untuk memperoleh harga diri tadi, maka manusia butuh orang lain untuk memberikannya. Hal ini bahkan dijelaskan oleh Erik Erikson, seorang psikolog psikodinamika, dalam teori fase-fase perkembangan manusia, psikososial, bahwa kebutuhan akan harga diri sudah dimunculkan sejak manusia masih bayi (santrock, J.W, 2006).
Sumber : http://barnabasjanuario.wordpress.com/2008/04/28/homo-homini-socius-dan-kebebasan-individual/

Homo Homini Lupus

“Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya” atau juga disebut “Homo homini Lupus ” istilah ini pertama kali di kemukakan oleh plautus pada tahun 945,yang artinya sudah lebih dari 1500 tahun dan kita masih belum tersadar juga. di jaman sekarang ini sangat sulit Menjadikan Manusia seperti seorang manusia pada umumnya,sepertinya istilah ini masih tetap berlaku sampai sekarang.
Tidak bisa dipungkiri Hidup di dalam suatu negara sangat di butuhkan sosialisasi karena kita tidak dapat Hidup dengan sendirinya tanpa ada manusia lain.Apalagi seperti keadaan sekarang ini kita Hidup di jaman yang serba susah .Demi mempertahankan hidup itu sendiri kita rela melakukan apa saja Mulai dari yang halal sampai yang Haram, tentunya semua itu kita lakukan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.Untuk mewujudkan itu semua memang tidak mudah dimana kita harus menghadapi berbagai konflik yang akan memicu lahirnya sikap saling mangsa Dan disinilah Peran Hati nurani & ego sangat dibutuhkan.
gambaran manusia di jaman sekarang ini sangatlah mengerikan dari segi sikap dan perbuatan terkadang lebih keji dari pada hewan yang paling buas sekalipun,saling sikut,saling berebut saling tikam bahkan saling memangsa layaknya serigala yang buas siap menerkam mangsanya demi sebuah kepuasan (ambisi).
sebagai contoh yang terjadi di dalam kehidupan kita seperti tindakan kekerasan,mulai dari perkelahian ,pembunuhan,pemerkosaan,serta aksi teror pemboman yang sedang trend di negara kita dan perang dunia yang memungkinkan akan terjadi lagi. Apakah itu disebut manusia ? Tidak. Kenapa tidak? Karena itu semua manusia yang melakukanya dan dilakukan terhadap manusia juga ? entahlah..’
Pengakuan sebagai umat beragamapun yang telah patuh terhadap ajaranya kerap kali sebagai alasan tindakan kekerasan bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Banyak pelaku kekerasan seperti tersebut menyatakan ini masalah iman, masalah Tuhan atau masalah kebenaran (kebenaran yang ditafsirkan manusia itu sendiri).
untuk menghadapi ini semua haruskah kita pun menjadi serigala ? atau hanya diam dan menjadi domba yang berada di tengah-tengah gerombolan para serigala lapar ?
Sumber : http://lifestyle.kompasiana.com/group/urban/2010/07/25/homo-homini-lupus/

Sekarang kita sudah mengetahui apa arti dari homo homini socius dan homo homini lupus. Dari kedua artikel tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam hidupnya dan juga merupakan seekor manusia serigala yang dapat memakan manusia ketika dirinya dipenuhi nafsu. Dan sadar atau tidak kedua hal tersebut ada didalam diri kita.
Untuk itu sudah sepantas kita menjadi makhluk yang berguna bagi masyarakat di lingkungan kita. Dan janganlah menjadi makhluk yang egois karena tak ada satu pun manusia yang dapat hidup sendirim kecuali Tuhan Yang Maha Esa. Mulailah untuk merubah pribadi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang.
Nama : Gerry Indryan Pratama
NPM/Kelas : 22110982/1KB01
Mata Kuliah : tugas softskill 4

Categories: Tugas | Tinggalkan komentar

Navigasi tulisan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: